Perdana Resmi Dicatat Atas Nama Kabupaten Magelang, 17 Ton Kopi Grabag Dikirim ke Dubai
Untuk kali pertama, kopi produksi petani Grabag, Kabupaten Magelang, resmi menembus pasar global. Sebanyak satu kontainer berisi 17 ton biji kopi mentah (green bean) dikirim ke Dubai, Uni Emirat Arab.
Pengiriman ini menjadi tonggak baru bagi petani dan pelaku usaha kopi di wilayah tersebut, setelah bertahun-tahun hanya menjadi pemasok tanpa identitas dalam rantai dagang ekspor.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengatakan, ekspor perdana ini menandai perubahan penting dalam posisi kopi Grabag di pasar global.
Selama ini, kopi Magelang ikut dalam ekspor namun tidak tercatat dengan asal yang jelas. Sehingga petani tidak mendapatkan pengakuan maupun nilai ekonomi optimal.
"Sekarang nama Magelang ikut tercatat. Ini bukan sekadar kirim barang, tapi pembuktian," ujar Grengseng ditemui setelah prosesi pelepasan ekspor di Kecamatan Grabag, Kamis sore (27/11).
Menurutnya, keberhasilan ini tidak terjadi dalam waktu singkat. Upaya perbaikan tata niaga, peningkatan kualitas pascapanen, dan penguatan kelembagaan petani menjadi faktor penting. Dia menyebut, kopi Grabag telah dibudidayakan turun-temurun sejak masa kolonial Belanda.
Bahkan kini luas arealnya mencapai sekitar 1.200 hektare dan menjadikannya sentra kopi terbesar di Kabupaten Magelang. "Mulai hari ini kopi Grabag tidak hanya diminum di daerah sendiri, tapi bersaing di panggung dunia. Tapi ini bukan akhir, justru titik awal agar kualitas terus dijaga," tegasnya.
Meski secara simbolis menjadi peristiwa pelepasan ekspor, momentum ini disambut sebagai pembuka jaringan baru bagi petani dan pelaku usaha kopi di Kabupaten Magelang.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpangan) Kabupaten Magelang, Romza Ernawan mengutarakan, Magelang kini menjadi salah satu lumbung kopi di Jawa Tengah. Total luas tanam kopi mencapai lebih dari 3.000 hektare, terdiri atas 2.136 hektare robusta dan 875 hektare arabika.
Dia menambahkan, produksi tahunan kopi robusta mencapai 2.006 ton, sedangkan arabika sekitar 112 ton. Kecamatan Grabag merupakan wilayah dengan kontribusi terbesar dengan produksi 1.743 ton ose per tahun.
"Potensinya besar dan kualitasnya sudah terbukti. Ekspor ini memperjelas bahwa pasar dunia menerima," katanya.
Ekspor tersebut juga berkaitan dengan program penguatan hulu-hilir kopi melalui The Development of Integrated Farming System in Upland Areas (UPLAND) yang berjalan sepanjang 2025–2026. Grabag menjadi lokasi prioritas dengan cakupan area 800 hektare dan dukungan anggaran hampir Rp 18,96 miliar.
Program ini, lanjut dia, melibatkan 27 kelompok tani dengan 1.732 anggota. Tidak hanya menawarkan bantuan alat produksi, tetapi juga pendidikan barista, solar dryer, mesin pengolahan, kendaraan distribusi, hingga akses pembiayaan mikro sebesar Rp 3,75 miliar. (aya/pra).
Referensi: Link Berita