Komoditas Tembus Pasar Ekspor, Koperasi UPLAND Subang Farm Butuh Payung Regulasi
Exit Strategy Pasca Program UPLAND
Kelompok Tani Bunihayu di Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang tengah menyiapkan langkah besar untuk memperkuat keberlanjutan kelembagaan petani pasca berakhirnya Program UPLAND. Melalui Koperasi Produsen UPLAND Subang Farm, para petani berupaya memperluas layanan kepada sekitar 2.500 anggota dengan memperkuat permodalan koperasi yang direncanakan berasal dari mobilisasi modal anggota sendiri. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi keberlanjutan (exit strategy) agar manfaat program tetap berjalan setelah proyek selesai.
Di sisi lain, koperasi juga berupaya mengakses dukungan pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir Kementerian Koperasi. Namun hingga kini, upaya tersebut masih menghadapi tantangan karena belum tersedianya regulasi daerah yang menjadi dasar pengembangan skema microfinance di Kabupaten Subang. Dalam skema pembiayaan dana bergulir Program UPLAND, penyaluran bantuan hibah pembiayaan (on-granting financing) mensyaratkan adanya Peraturan Daerah, Peraturan Kepala Daerah, serta perjanjian kerja sama antara Dinas Pertanian dan bank daerah.
Misi Supervisi dan Evaluasi IsDB
Kabupaten Subang menjadi salah satu lokasi kunjungan dalam rangkaian misi supervisi Program UPLAND yang dilaksanakan oleh Islamic Development Bank Regional Hub Indonesia. Misi tersebut merupakan bagian dari agenda pembuka Departemen Evaluasi Independen (IEvD) IsDB dalam melakukan validasi terhadap laporan penyelesaian dan capaian pelaksanaan Member Country Partnership Strategy (MCPS) Indonesia periode 2022–2025.
Tim misi dipimpin oleh Golam Mortaza (Senior Evaluation Specialist) dan Asim Jahangir (Senior Evaluation Conultant). Kegiatan diawali dengan diskusi bersama Tim PMU UPLAND Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Subang selaku PIU, serta para fasilitator desa.
Dari pelaksanaan misi supervisi tersebut, muncul pelajaran penting bahwa keberhasilan program sangat ditentukan oleh koordinasi dan sinkronisasi antar pihak, mulai dari perencanaan, penganggaran, pengadaan, hingga pelaporan keuangan. Seluruh proses tersebut perlu diperlakukan sebagai satu siklus kerja yang terintegrasi agar keberlanjutan program dapat terjaga.
Pendampingan Tingkatkan Produktivitas Petani
Saat berdialog dengan kelompok tani di Desa Bunihayu, tim misi memperoleh berbagai cerita keberhasilan petani penerima manfaat Program UPLAND. Salah satunya disampaikan oleh Usman, petani nanas yang merasakan peningkatan produktivitas dan kualitas hasil panen setelah mendapatkan pendampingan program.
Menurut Usman, sebelum mendapat pendampingan, berat rata-rata buah nanas yang dihasilkannya hanya sekitar 0,2 kilogram per buah. Kini, ukuran buah dapat mencapai rata-rata 1,5 kilogram per buah. Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh penjarangan jarak tanam, penggunaan pupuk yang lebih tepat, serta pendampingan intensif fasilitator desa dalam penerapan budidaya yang lebih baik.
Keberadaan koperasi juga membawa perubahan besar dalam rantai pemasaran hasil pertanian. Jika sebelumnya petani bergantung pada tengkulak yang sering memainkan harga dan permodalan, kini petani dapat langsung menjual hasil panen kepada koperasi untuk dipasarkan kembali kepada konsumen maupun mitra dagang.
Komoditas Subang Tembus Pasar Global
Ketua Koperasi UPLAND Subang Farm, Ita, menjelaskan bahwa komoditas hortikultura dari Subang kini mulai berhasil menembus pasar internasional. Komoditas manggis telah diekspor ke China, sementara nanas dipasarkan ke kawasan Timur Tengah, termasuk Dubai, serta ke Toronto di Kanada.
Meski demikian, pasar ekspor masih menghadapi berbagai tantangan global. Pengiriman nanas ke kawasan Timur Tengah terdampak situasi geopolitik dan konflik di jalur perdagangan sekitar Selat Hormuz yang memengaruhi distribusi logistik. Sementara itu, ekspor ke Amerika Utara juga menghadapi tekanan akibat tingginya tarif perdagangan internasional yang berdampak pada biaya masuk produk hortikultura.
Menurut Ita, koperasi terus berupaya menjaga keberlanjutan pasar ekspor dengan memperkuat kualitas produk, menjaga konsistensi pasokan, serta memperkuat koordinasi dengan eksportir dan mitra dagang.
Manggis Subang Semakin Kompetitif
Keberhasilan menembus pasar ekspor menunjukkan bahwa komoditas hortikultura dari Subang memiliki daya saing yang semakin kuat. Melalui pembinaan Program UPLAND dan penguatan kelembagaan koperasi, kualitas dan tata kelola pascapanen manggis mengalami peningkatan signifikan.
Hingga triwulan pertama tahun 2026, total ekspor manggis yang difasilitasi koperasi telah mencapai sekitar 40 ton, termasuk pengiriman terbaru sebanyak 3 ton manggis segar ke China.
Perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Nana, menyampaikan bahwa Program UPLAND telah membantu meningkatkan nilai jual produk petani, khususnya manggis dan nanas. Ke depan, program tersebut diharapkan mampu terus mendorong peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani di Kabupaten Subang.
Tantangan Regulasi dan Pembiayaan Mikro
Asim Jahangir mengaku terkesan dengan gudang penyimpanan (warehouse) yang dibangun dan dikelola langsung oleh asosiasi petani. Menurutnya, fasilitas tersebut menunjukkan bahwa Program UPLAND yang turut didukung IsDB telah memberikan dampak nyata bagi petani, terutama dalam memangkas ketergantungan terhadap tengkulak dalam rantai pasok dan meningkatkan pendapatan petani.
Meski demikian, Asim menilai masih terdapat tantangan dalam aspek permodalan dan rendahnya pemanfaatan kredit mikro. Ia berharap pemerintah daerah segera memperkuat integrasi program dengan regulasi daerah guna mendukung langkah keberlanjutan pasca proyek.
Saat ini, alokasi kredit mikro yang tersedia untuk Kabupaten Subang mencapai sekitar Rp4,625 miliar. Namun fasilitas tersebut belum dapat direalisasikan akibat belum tersedianya regulasi pendukung berupa Peraturan Daerah beserta seluruh peraturan turunannya.
Dalam skema microfinance Program UPLAND, seluruh kegiatan yang dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat juga mendapatkan kontribusi dukungan sebesar 20 persen dari proyek. Skema tersebut dirancang untuk memperkuat partisipasi masyarakat sekaligus meningkatkan rasa kepemilikan petani terhadap program dan kelembagaan yang dibangun bersama (tom-KM)