PMU UPLAND Perkuat Kapasitas Gender, Nutrisi, Infrastruktur, Sosial dan Lingkungan
Program UPLAND Project Kementerian Pertanian terus memperkuat keberlanjutan pembangunan pertanian dataran tinggi melalui pelaksanaan Pelatihan Gender dan Nutrisi serta Pelatihan Pengelolaan Infrastruktur, Alsintan, Sosial dan Lingkungan (SECAP) diawali di 4 kabupaten partisipan pada 19–20 Mei 2026 (gelombang 1). Kegiatan ini dilaksanakan secara serentak dan dibuka secara daring oleh Direktur Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian Liferdi Lukman sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kapasitas masyarakat dan kelembagaan petani menjelang fase akhir implementasi proyek UPLAND pada tahun 2026.
Pelaksanaan pelatihan gelombang 1 dilaksanakan di Kabupaten Subang, Banjarnegara, Magelang dan Minahasa Selatan. Untuk gelombang ke 2 diagendakan bagi Kabupaten Lebak, Cirebon, Garut, Tasikmalaya, Purbalingga, Malang, Sumenep, Lombok Timur, dan Gorontalo. Sementara itu, pelaksanaan di Kabupaten Sumbawa yang seharusnya dilaksanakan pada gelombang 1 mengalami penyesuaian jadwal akibat keterbatasan ketersediaan hotel dan sarana pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan kegiatan.
Dalam arahannya saat pembukaan kegiatan, Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian menekankan pentingnya legacy program UPLAND untuk keberlanjutan manfaat proyek melalui penguatan kapasitas masyarakat, kelembagaan petani, pemerintah desa, dan pendamping lapangan. Selain peningkatan produktivitas pertanian, pembangunan pertanian berkelanjutan juga harus memperhatikan aspek kesetaraan gender, ketahanan pangan keluarga, serta keberlanjutan sosial dan lingkungan.
Program UPLAND terus bersinergi dengan berbagai pihak dalam memperkuat kelembagaan petani guna mendukung pengembangan agribisnis yang berkelanjutan. Selain itu, pengelolaan infrastruktur yang telah dibangun juga terus didorong agar dapat dimanfaatkan dan dipelihara secara optimal oleh masyarakat. UPLAND juga melakukan pendampingan terhadap koperasi yang telah terbentuk agar mampu memfasilitasi kebutuhan anggotanya, termasuk dalam memperluas akses terhadap fasilitas kredit mikro guna mendukung pengembangan usaha petani.
Penguatan Gender dan Nutrisi untuk Ketahanan Pangan Keluarga
Melalui tema “Mendorong Ketahanan Pangan dan Gizi Keluarga Melalui Peningkatan Peran Wanita dan Pemuda Tani di Pedesaan”, pelatihan Gender dan Nutrisi UPLAND diarahkan untuk meningkatkan kapasitas perempuan dan pemuda tani dalam mengintegrasikan perspektif gender ke dalam upaya peningkatan gizi keluarga dan pengembangan pangan lokal bergizi.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh capaian logframe pengarusutamaan gender dan nutrisi proyek yang masih perlu diperkuat. Berdasarkan data MIS UPLAND Tahun 2025, capaian penerima manfaat perempuan baru mencapai 82%, sementara target dukungan peningkatan gizi baru mencapai 76,5% atau sebanyak 11.473 orang dari target 15.000 orang.
Secara keseluruhan, sebanyak 280 peserta dari 14 Kabupaten diharapkan mengikuti pelatihan ini yang terdiri dari unsur Kelompok Wanita Tani (KWT), pemuda tani, BPP/PPL, dan kepala. Masing-masing kabupaten mengirimkan 20 peserta yang terdiri dari 17 perwakilan wanita tani/pemuda tani, 2 orang BPP/PPL, dan 1 kepala desa. Kegiatan ini didukung anggaran sebesar Rp645,2 juta dari Proyek UPLAND.
Selain mendapatkan materi terkait kesetaraan gender, inklusi sosial, nutrisi keluarga, pemberdayaan KWT, dan Pekarangan Pangan Lestari (P2L), seluruh peserta juga dibekali teknik diseminasi agar hasil pelatihan dapat diperluas kepada masyarakat lainnya. Setiap peserta diwajibkan melakukan sosialisasi kepada minimal 12 orang di wilayahnya masing-masing. Dengan pendekatan tersebut, pelatihan ini ditargetkan mampu menjangkau sedikitnya 3.360 orang tambahan penerima manfaat di tingkat masyarakat.
Pelatihan dilaksanakan menggunakan pendekatan Gender Action Learning System yang mengedepankan metode partisipatif, diskusi pengalaman lapangan, visualisasi, dan penyusunan rencana tindak lanjut desa dalam mendukung ketahanan pangan dan gizi keluarga petani.
Perkuat Pengelolaan Infrastruktur dan Kepatuhan Sosial Lingkungan
Selain pelatihan Gender dan Nutrisi, PMU UPLAND juga menyelenggarakan pelatihan Penguatan Pengelolaan Infrastruktur, Alsintan, Sosial dan Lingkungan (SECAP) yang akan melibatkan total 435 orang peserta dari unsur PIU, Fasdes, penyuluh, pemerintah desa, kelompok tani, gapoktan, dan korporasi petani di wilayah proyek.
Pelatihan ini bertujuan memperkuat keberlanjutan pemanfaatan infrastruktur pertanian dan alat mesin pertanian (alsintan), sekaligus meningkatkan pemahaman penerima manfaat terhadap aspek sosial dan lingkungan dalam pembangunan pertanian berkelanjutan.
Materi yang disampaikan meliputi pengelolaan dan pemeliharaan infrastruktur pertanian, tata kelola sosial dan lingkungan, perubahan iklim, hingga praktik pengurusan izin lingkungan SPPL melalui sistem OSS. Narasumber berasal dari Dinas Lingkungan Hidup, DPMPTSP daerah, Konsultan DSC, serta tenaga ahli SECAP UPLAND.
Pelatihan SECAP juga menjadi ruang pembelajaran bersama mengenai pentingnya keberlanjutan manfaat proyek setelah proyek berakhir. Peserta didorong menyusun kesepakatan pengelolaan sosial dan lingkungan di tingkat kelompok tani dan korporasi petani, termasuk memperkuat peran pemerintah desa dalam mendukung keberlanjutan infrastruktur dan budidaya pertanian.
Mendorong Keberlanjutan dan Replikasi Pembelajaran
Pelaksanaan kedua pelatihan tersebut menunjukkan komitmen UPLAND dalam memastikan bahwa pembangunan pertanian tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan pendapatan, tetapi juga memperhatikan aspek kesetaraan gender, ketahanan gizi keluarga, keberlanjutan sosial, dan perlindungan lingkungan.
Berbagai sesi lesson learned dan best practices yang dilakukan selama pelatihan juga menjadi media penting untuk menggali pengalaman sukses antarwilayah, termasuk praktik baik pengelolaan kelompok tani, pengembangan P2L, penguatan kelembagaan perempuan, hingga tata kelola lingkungan berbasis masyarakat.
Melalui penguatan kapasitas masyarakat, pemerintah desa, penyuluh, dan kelembagaan petani, Program UPLAND diharapkan dapat meninggalkan fondasi pembangunan pertanian dataran tinggi yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap tantangan sosial maupun lingkungan di masa depan (tom-KM).